Posts

Tadi Hujan

 tadi hujan sedari pagi sampai petang aku menyusuri jalanan kota namun yang tergenang bukan air melainkan namamu saat membuka mata ketika hujan mengetuk kaca jendela kamarku kau kira apa yang pertama kali terpikir? semua hal tentang kita aspal basah tetes sisa hujan di dedaunan langit mendung tanah lembab semua merekam jejak kita yang dulu pernah melewati setiap jalanan kota ini aku lupa jalan  aku ingin menyusuri jalanan panjang yang kanannya penuh pepohonan, jalan yang pernah dua kali kita lalui aku masih ingat sore itu sesaat setelah hujan jalan itu menenangkan meski kedinginan aku ingin melewati jalan itu lagi tapi lewat mana maukah kau kembali dan pergi kesana lagi?

bisakah (?)

Bisakah kita bercengkrama namun isinya tidak akan kita lupakan sampai lebih dari selamanya? Perihal aku yang terlalu pusing memikirkan dunia dan perihal kamu yang terlalu menikmati setiap waktu yang ada Bisakah kita duduk sebentar saja, memastikan kemana kapal ini akan bermuara Pantai atau karam di lautan tak bertuan? Boleh kulukis peta yang tidak akan pernah kita lupa? Menggambar setiap sudut dunia dan menggores lekuk wajahmu disana Pernah kau bertanya mengapa aku selalu menolak ketika lengan para manusia terjulur? Karena bila bukan hanya kita, kapal ini akan tenggelam di lautan bebas Tidak mampu menampung lebih dari dua beban Tidak cukupkah aku yang menjadi penunjuk jalan? Lalu mengapa masih saja menanyakan tujuan pada manusia lain yang berlalu lalang Jangan kemana-mana Cukup di dekatku, menjadi nakhoda dan aku penumpangnya

11:11

isinya sedang disunting

berbahagia untuknya

Apa yang lebih menyenangkan selain melihat dia tertawa riang? Matanya yang menyipit dengan senyum yang tersungging di bibirnya Menyenangkan sekali jika bisa lebih lama lagi menikmati pemandangan seperti itu ya walaupun objek dari senyumnya bukan saya, haha tidak apa, saya tetap bahagia. Saya berbahagia untuknya, selama nadinya masih berdenyut Tidak ada waktu yang dapat membuat saya sedih berlarut-larut Selama jantungnya masih berdetak Tidak ada hal yang dapat membuat saya retak Saya hanya hidup untuk menikmati setiap detik mengamati hal-hal indah yang ada di hadapan saya Semuanya menyenangkan asal ada dia di dalamnya

sebuah potret

Beberapa waktu lalu sebuah potret berhalu lalang di beranda saya, membuang saya memikirkan semuanya. Saya tidak memikirkan tentang si pemilik potret, saya hanya memikirkan tentang seseorang yang dulu pernah menaruh tatap pada sosok dibalik potret tersebut.   Saya menulis, bukan karena ingin tapi karena butuh. Setelah hari itu, satu-satunya obat untuk mengobati ya Cuma dengan menulis. Saya menulis untuk melepaskan semuanya meski esok saat mentari menyapa ya rasa itu tetap akan sama, tapi setidaknya saya dapat tidur tenang malam ini karena sesak tidak akan lama-lama bertamu karena sudah saya curahkan semua disini.   Saya tahu mungkin dia jauh lebih melekatkan tatap pada sosok yang saya lihat beberapa waktu lalu, tapi kalau boleh egois saya ingin berteriak didepan mukanya menunjukkan siapa yang seharusnya lebih ia harap. Bukan, bukan saya. Saya cukup sadar diri bahwa saya tidak sepantas itu. Saya tidak sehebat itu untuk dia lekatkan pada tatapnya.   Bahkan setela...

paragraf terakhir

bahkan pada paragraf terakhir aku tetap aku sedang tuan sudah menjelma semu bahkan pada paragraf terakhir aku masih aku sedang tuan menjelma abu dan hilang dimakan waktu aku hanya ingin jujur terlepas dari segala hal yang tidak seharusnya ada memang setiap tamu yang datang akan menjelma pulang dan setiap yang hanya singgah tak akan sungguh lalu bagaimana cara menutup pintu saat aku masih duduk menyila di tengah jalan dahulu, tuan hadir menyerupai setiap rupa dari puisi dan sajak yang tersimpan rapi mau pun berceceran dalam lemari ingatan dan kini, tuan pergi dibarengi sajak hilang makna yang berputar tanpa henti dalam kepala jika aku tahu setiap puisi yang kutulis akan menjadi nyata maka aku tidak akan pernah menulis itu semua harusnya, harusnya seandainya waktu itu aku tidak mengisahkan perihal keberangkatan terakhir yang didampingi sajak cacat dari imaji ku, apa tuan masih akan tetap disini? beberapa waktu lalu aku bertanya akankah negosiasi dengan semesta berjalan lancar? sekarang a...

aku ingin egois malam ini

Selamat malam Malam ini aku kembali Setelah beberapa purnama menghilang entah kemana Bukan mauku, tuan tahu itu Malam ini, entah kenapa aku hanya ingin menggerakkan jemari untuk sekadar menggoreskan sedikit tinta yang menjelma cerita perihal tuan yang entah sudah berapa lama tidak ku jamah   Izinkan aku untuk egois malam ini saja Melupakan semua hal yang melarangku untuk melakukan ini Melupakan segala hal yang tidak pernah mengizinkan aku untuk menorehkan pena mengatasnamakan tuhan sebagai pusat dari segala cerita Melupakan segala perihal anggapan tuan bilamana tahu aku belum juga berhenti menjadikanmu tokoh utama Melupakan segala tuntutan, batasan, dan ketidak layakan ku untuk menuliskan ini semua   Satu dari semua orang datang aku hanya mau kamu, dan masih saja begitu Bahkan sampai saat ini aku masih seperti itu Tidak ada yang terdegradasi Aku masih sama seperti terakhir kali ketika kita membahas perihal suatu hal yang membingungkan bagimu tapi ...