Akhir yang gantung

Apa bagian tersulit dari menulis? Ya, memulai. Sama seperti hubungan. Bagian tersulitnya adalah memulai lalu bagaimana dengan mengakhiri? Apakah itu mudah? Yups mengakhiri adalah hal yg mudah namun sulit diterima, tidak hanya dalam hubungan sama halnya juga dalam menulis. Jika tulisan diakhiri dengan kalimat atau kata yg tidak sesuai, menggantung, tidak bagus, dan lain lain, maka orang yang membaca akan merasa kebingungan bukan? Bisa juga tidak terima dengan akhir yg ada.

Hubungan juga demikian, jika suatu hubungan diakhiri dengan mudah apalagi oleh sebelah pihak itu akan menjadi akhir yg gantung. Kalau kalian yang seperti itu apakah kalian akan menerima begitu saja? Kalau tidak apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan membujuk agar tidak berpisah? Kalian akan memohon-mohon? Atau kalian akan tetap menganggap hubungan itu tidak pernah berakhir? Hey don’t be stupid please.

Bukan itu yang harus dilakukan jika kalian berada di fase yang rumit itu. Simple saja kalian hanya harus membicarakannya dengan baik baik dan hargai setiap keputusan yang telah dibuat, karena dalam suatu hubungan, setiap orang memiliki andil yang penting, tidak masalah jika hanya seorang yang mengambil keputusan yang demikian rupa karena tugas yg satunya lagi adalah menerima. Kenapa menerima? Karena hati tidak bisa dipaksa dan orang tidak bisa ditebak. Ada orang yang mungkin akan tetap bertahan dalam suatu hubungan meski kenyamanan dan rasa yg selama itu ia rasakan telah berkurang atau bahkan menghilang hanya untuk menanam rasa itu kembali karena bisa saja dia percaya bahwa cinta akan tumbuh karena terbiasa dan ajaibnya memang itu yang sering terjadi dalam hidup kita. Namun tidak semua orang seperti itu, masih banyak orang yang menyerah saat rasanya telah pudar, mereka berpikir bahwa untuk apa lagi mempertahankan hubungan sedangkan dia sudah tidak bahagia lagi dalam hubungan ini. Logis dan simple memang, kalau sudah tidak ada rasa yaa tinggal berhenti. Yang sulitnya adalah jika orang yang seperti itu berhadapan dengan orang yang hatinya entah mengapa memang tercipta hanya untuk mencintai dan mencintai saja alias tidak memungkinkan bagi hati itu untuk berubah rasa. Lalu siapa yang salah jika sudah begitu? Tidak ada. Tidak ada yang bisa disalahkan memang karena mereka sama-sama tidak salah, yang salah hanyalah pola pikir mereka yang berbeda.

intinya kita hanya harus menerima. Jika memang suatu hubungan berakhir dengan alasan yang logis dan sesuai kesepakatan kedua belah pihak yasudah cukup untuk menerima saja, kalau memang ingin kembali berjuang dan berusaha memperbaiki, sebaiknya jangan dari pihak yang diputuskan karena itu akan sia-sia, tidak percaya? Coba saja hahahahaha. Hak untuk memperbaiki hubungan itu ada di pihak yang memutuskan. Karena mereka yang merusak, maksud hubungan disini lebih kepada hubungan komunikasi yang baik ya agar tidak ada dendam, benci, dan sakit hati. Tapi hak untuk memperbaiki hati itu ada pada pihak yg diputuskan, jangan pernah berharap mereka yang sudah pergi itu akan memperbaiki hati kalian. Itu tidak akan terjadi, tidak percaya? Coba saja ahhahahahah.

Seperti quotes time heals everything. Ya cukup percaya saja seiring berjalan waktu semua rasa sakit itu akan terkubur oleh waktu, bukan hilang ya tapi hanya terkubur saja, jadi ada kemungkinan itu akan terasa lagi, rasa sakit yang sekali terasa saja hanya bisa terkubur apalagi rasa cinta hahhahahaa. Cinta juga seperti itu, semakin lama semakin memudar namun bukan bearti hilang, cinta hanya tidak terasa karena kalian sudah terbiasa dengan tidak adanya cinta itu sendiri.

Nah sekarang tulisan ini akan berakhir. Gantung kan? Berakhir tanpa epilog ataupun kesimpulan. Tapi ada alasan dibalik berakhirnya tulisan ini. Sama seperti hubungan yang diceritakan tadi. Gantung tapi logis.

Comments

Popular posts from this blog

berbahagia untuknya

paragraf terakhir

Cangkir dan Tuan yang tidak hadir